Protecting A Natural Monument from A City's Waste (Indonesian)

,

Yahoo Indonesia, Rio de Janeiro, Brazil

Kepulauan Cagarras terletak 5 km selatan dari Pantai Ipanema, Rio de Janeiro, Brasil. Terdiri dari enam pulau utama dan tiga gugusan karang, pulau ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Rio de Janeiro, sama pentingnya menjadi simbol kota seperti halnya Patung Kristus Penebus (Cristo Redentor) yang terkenal itu. Pemandangan akan kota Rio de Janeiro dari udara pun selalu menampilkan gugusan pulau ini sebagai kekhasannya. 

Baru pada 2010, gugusan pulau tersebut mendapat status kawasan terlindungi dari pemerintah federal Brasil sebagai 'monumen alami'. Alasannya, gugusan pulau tersebut, terutama di pulau terbesar Redonda, menjadi habitat tempat bersarangnya dua spesies burung khas Brasil, fragata dan atoba. Bahkan Pulau Redonda adalah lokasi reproduksi terbesar kedua buat burung fragata di seluruh Brasil. Belum lagi vegetasi hutan yang ada di permukaan pulau.

Letak kepulauan ini yang tak jauh dari Rio de Janeiro membuatnya rentan dengan polusi. Ada kapal-kapal besar yang setiap hari masuk ke pelabuhan sehingga menyisakan jejak bahan bakar di air. Belum lagi sampah organik yang mengalir ke laut dari polusi air penduduk kota. Tergantung gelombang, limbah industri dari Teluk Guanabara juga mengancam ekosistem di sekitar gugusan pulau tersebut yang memang rapuh.

Situasi yang terjadi di Kepulauan Cagarras bukanlah hal asing. Teluk Jakarta seolah jadi comberan buat limbah pabrik, sampah, serta air kotor tanpa filter yang mengalir ke laut dari berbagai aktivitas penduduk kota. 

Sama seperti Pulau Redonda yang jadi habitat alami burung fragata dan atoba, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta pun menjadi habitat alami elang bondol yang notabene adalah maskot atau simbol kota. Seharusnya, bisa ada perlindungan serupa terhadap elang bondol yang memang sudah masuk daftar satwa dilindungi. Kini populasi elang bondol terus menurun karena, salah satunya, mangsa makin sedikit akibat pencemaran laut. 

Jakarta pun secara rutin menerima kedatangan kapal-kapal kargo yang masuk ke Tanjung Priok, sama seperti di Rio de Janeiro. Yang beda dari dua situasi ini adalah di Rio de Janeiro, ada upaya untuk mengurangi aliran sampah dan limbah ke laut.

Kepala Kawasan Monumen Alami Kepulauan Cagarras, Fabiana Biwdo Cesar, mengatakan sangat sulit melindungi kawasan kepulauan tersebut dari polusi air akibat sisa bahan bakar minyak kapal-kapal besar yang akan masuk ke pelabuhan. 

"Saat ini kami sedang bekerja dengan otoritas kelautan untuk membuat rute baru buat kapal-kapal sehingga mereka bisa memberi ruang bernapas bagi monumen alam ini," ujar dia, Sabtu (16/6) di Rio de Janeiro. 

Mereka kini juga mulai menyadarkan penduduk kota Rio akan pentingnya pengolahan limbah air rumah tangga. "Penduduk kota memang sudah sadar bahwa mereka mengeluarkan limbah air rumah tangga, tapi mereka belum menghubungkannya dengan polusi laut."

Institusi yang dipimpin Fabiana pun menyelipkan brosur di tagihan air akan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan penduduk kota untuk mengurangi beban laut akibat limbah rumah tangga. 

Bagi para nelayan di sekitar area kawasan perlindungan pun, mereka tidak bisa menggunakan kapal besar untuk menangkap ikan. Jaring yang digunakan harus berukuran kecil. Semua orang yang berada di sekitar kawasan ini harus di luar radius 10 meter. Meski begitu, orang-orang tetap bisa menyelam, memancing, dan berenang di sekitar gugusan pulau tersebut.

Saat ini, kantor administrasi Monumen Alami Kepulauan Cagarras pun bekerjasama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi tugas untuk mendata berbagai spesies hewan maupun tumbuhan di sekitar pulau. Uniknya lagi, kantor ini juga meminta nelayan yang biasa menangkap ikan di sekitar pulau untuk ikut mencatat spesies ikan apa saja yang mereka temukan. 

"Semakin banyak spesies yang bisa kami kumpulkan, apalagi jika ada yang unik, maka kami bisa mengklaim tingkat perlindungan yang lebih tinggi dari 'monumen alami' buat gugusan pulau ini," kata Fabiana. Sebuah langkah yang bisa dicontoh Jakarta untuk melindungi keanekaragaman hayati di Kepulauan Seribu.