Strange Allies, How the US and Venezuela Block Negotiations on Ocean in Rio+20

,

Yahoo Indonesia, Rio de Janeiro

One of the weaker elements from The Future We want document that comes out from Rio+20 UN Conference on Sustainable Development is on the protection of biodiversity on oceans and high seas. The original paragraph on oceans states that states will protect biodiversity in international waters, instead the text now only said that states encourage protection of biodiversity in high seas.

The High Seas Alliance expected Rio+20 would come out with a set of legal framework that would generate a comprehensive international treaty on the protection of oceans. "The oceans are already damaged from overfishing and destructive fishing practices such as trawling or the increasing trend of deep sea bed mining," said Alex Rogers, scientific director of the International Programme on the State of the Ocean and professor of conservation biology at Oxford University.

As the trend of deep sea bed mining is increasing, it would need to be regulated. The weak paragraph to ensure protection of marine biodiversity would delay the debate on the making of this new treaty and deep sea bed mining regulation (among others) to another three years. "The seas cannot wait," he adds.

The outcome of final document regarding protection of oceans is considered surprising by the High Seas Alliance as up to the final hours of negotiation, powerful countries such European Union, India, South Africa, and host Brazil was also negotiating for stronger paragraph on protection. 

However, the strange alliance of US and Venezuela (along with Japan, Canada, and Russia) has made sure that the negotiations on ocean does not go any further. Venezuela even asks for civil society representatives to leave the room, or else they would not continue negotiating.

"Seeing how Venezuela and US work so closely together in blocking the negotiation process on ocean makes me wonder whether Hugo Chavez has converted to capitalism in his old age," said Matthew Gianni, political and policy advisor to the Deep Sea Conservation Coalition.

Gianni was hoping that Rio+20 outcome would help to shift paradigmn on how we see oceans. "We now have enough technology and science to know what is out there and to move to responsible fisheries. We have better understanding of the ecosystem, how we fish in those ecosystem, and eventually left something for the next years."

(Complete text in Indonesian)

Di bawah kepemimpinan Presiden Hugo Chavez, Venezuela biasanya berada di posisi yang sangat berlawanan, bahkan anti dengan kapitalisme Amerika Serikat. Maka, aneh ketika bisa ada persekutuan erat antara Venezuela dan Amerika Serikat seperti yang terjadi di meja perundingan KTT Bumi di Rio de Janeiro, Selasa (19/6) dini hari lalu.

Hampir seminggu terakhir, delegasi dari 193 negara anggota PBB berkumpul di Rio de Janeiro dalam rangka pertemuan 10 tahun sekali membahas komitmen politik para pemimpin dunia untuk menentukan arah pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang sekaligus memberi perlindungan pada lingkungan hidup. 
Hasil yang diharapkan dari konferensi tingkat tinggi ini terangkum dalam dokumen berjudul 'The Future We Want' atau 'Masa Depan yang Kami Inginkan'. 

Dokumen 49 halaman tersebut terbagi dalam beberapa paragraf soal sektor-sektor khusus seperti membangun ekonomi hijau, pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, energi bersih, pembangunan kota-kota hijau serta transportasi ramah lingkungan, dan kesehatan. Nantinya, setiap kepala negara akan menandatangani dokumen ini di akhir konferensi dan mereka wajib menjalankan poin-poin dalam setiap bahasan ini di tingkat nasional.

Dokumen 'The Future We Want' ini juga membahas soal perlindungan ekosistem kelautan. Pada bahasan inilah aliansi unik antara Venezuela dan Amerika Serikat terjadi. Di meja perundingan, Venezuela tiba-tiba saja mengambil posisi sama dengan Amerika Serikat dengan menghambat negosiasi sehingga yang kemudian muncul dalam teks adalah minimnya perlindungan laut lepas. 

Entah apa yang menyebabkan Venezuela tiba-tiba menjadi sekutu buat Amerika Serikat. Padahal, di meja perundingan internasional, Venezuela masuk dalam kelompok negara berkembang G77 dan Cina (Indonesia masuk di kelompok negara berkembang ini juga) yang sudah mengambil posisi pro perlindungan kelautan yang kuat. 

Kelompok negara kuat dalam negosiasi seperti Uni Eropa, Brasil, India, dan Afrika Selatan padahal sudah menyatakan pro perlindungan laut yang kuat. Amerika Serikat, bersama dengan Rusia, Kanada, Venezuela, dan Jepang, ada di posisi berlawanan.

"Entah apa yang terjadi di sini, di meja perundingan kami melihat Venezuela bekerja sangat erat membela kepentingan Amerika Serikat dan memecahkan diri dari kelompok G77. Apakah Chavez di usianya kini tiba-tiba jadi berpihak pada kapitalisme?" kata Matthew Gianni, penasihat politik dan kebijakan Deep Sea Conservation Coalition. 

Hugo Chavez sendiri tentu tidak berada langsung di meja perundingan, adalah para negosiatornya yang mengambil posisi tersebut. Meski biasanya para negosiator mengambil posisi sesuai kebijakan politik masing-masing negara. Chavez akan datang ke KTT Bumi ini dan dijadwalkan berbicara di forum tingkat tinggi baru pada Kamis (21/6) sore. 

Perlindungan laut lepas yang kuat akan membatasi praktik-praktik pengambilan ikan di laut secara berlebihan yang akan merusak ekosistem bawah laut, atau bahkan menguras stok ikan di lautan. Laut juga akan terlindungi dari praktik pertambangan bawah laut yang diprediksi akan makin banyak terjadi, seperti pertambangan nikel yang sedang mengancam kawasan laut Raja Ampat di Papua.

Tetapi bagaimana dengan Amerika Serikat? Apa yang membuat mereka enggan memberi perlindungan kuat pada laut lepas dalam dokumen ini?

Menurut Gianni, salah satu alasannya adalah mempertahankan monopoli ekonomi dari industri obat-obatan di Amerika Serikat. "Ada hal yang bernama sumber daya genetik laut yang kemudian bisa diolah jadi bahan pembuat produk-produk farmasi," kata dia. 

Jika sumber daya genetik laut ini berasal dari spesies yang ditemukan di laut internasional dan ternyata bisa mengobati kanker misalnya, maka idealnya hak paten atas pengembangan obat ini adalah milik masyarakat internasional. Berbagi manfaat secara global. 

Hanya saja, posisi pemerintah Amerika Serikat adalah ingin membiarkan perusahaan-perusahaan farmasi untuk pergi sendiri ke laut lepas, bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, tanpa aturan, dan kemudian menguasai hak paten atas obat yang mereka kembangkan dari spesies laut di perairan internasional.

"Industri farmasi kini mulai menyadari apa yang akan terjadi pada mereka jika ada traktat baru dalam perlindungan laut. Mereka tidak ingin mengembangkan obat yang salah satu bahannya adalah spesies laut, lalu 10 tahun kemudian dituntut untuk pelanggaran hak paten oleh masyarakat internasional. Mereka ingin kepastian," ujar Gianni lagi. 

Ahli biologi konservasi laut Universitas Oxford Alex Rogers juga mengatakan bahwa laut tidak bisa menunggu lebih lama. Pasalnya praktikpengambilan ikan berlebihan di lautan (overfishing) dan pengambilan ikan dengan cara yang merusak ekosistem laut terus terjadi. 

"Tidak ada alasan, selain kemauan politis, bagi negara-negara untuk tidak mengejar para pelaku kerusakan di laut tersebut. Kita sudah punya cukup teknologi untuk memantau kapal-kapal ikan yang melakukan praktik-praktik merusak laut tersebut, kapan dan di mana mereka melakukannya. Sayangnya, kita tidak bisa melihat langsung seperti apa kerusakan ekosistem bawah laut sehingga orang tidak menganggap ini penting," kata dia.

Gianni juga menambahkan bahwa dengan perlindungan laut yang kuat ia mengharap terjadinya perubahan paradigma pada cara kita melihat lautan, lebih dari sekadar tempat mengambil ikan. "Kita kini tidak bisa lagi sekadar mengambil ikan di lautan, kita sudah punya cukup teknologi untuk memahami seperti apa ekosistem laut, lalu bagaimana kita bisa merencanakan mengambil ikan di ekosistem seperti itu dengan cara yang bertanggungjawab, kemudian bagaimana kita bisa menyisakan ikan di laut untuk tahun-tahun ke depan." 

Sayangnya, upaya AS, Venezuela, Rusia, Kanada, dan Jepang memastikan bahwa perlindungan menyeluruh terhadap ekosistem laut tidak masuk dalam dokumen hasil akhir KTT Bumi di Rio de Janeiro. Mereka tampaknya berpikir bisa terus-terusan menyedot persediaan ikan di lautan sampai habis tak bersisa. 

First published in Yahoo Indonesia